Jalan Kaki

| Selasa, 11 November 2014
Aku memang pejalan kaki, dan selalu menggunakan kendaraan umum ke tempat kerjaku.Apakah salah? Atau apa ya? seringnya melihat tatapan nanar, tatapan kasihan, atau tatapan menggoda para pengguna  motor yang melintas didekat tempatku menunggu bis yang akan mengantarkanku ke rumah. Mungkin dalam benak mereka aku dipikir ga punya motor, mungkin, ato ada alasan lainya? hemh biar saja saia masih suka begini kok toh kalo diitung itung uang yang saya keluarkan untuk membayar ongkos bis sama bensin yang kamu beli juga gedean ongkosku kok mbok yo ga usah kemayu ato kemaki to ya, saia juga udah punya motor sendiri ya. Ke pasar Ngadirojopun juga begitu, dua hari yang lalu aku dan adek mo ke ATM yang letaknya dekat pasar, disamping terminal sudah ngumpul kawanan abg alay yang ngliatin, merhatiin aku dan adekq. Kenapa heran ngliat orang cantik jalan kaki? memang respect para pengguna kendaraan di Wonogiri khususnya untuk pejalan kaki bisa aku bilang KURANG.Padahal banyak manfaat lebih yang bisa kita dapat dari jalan kaki, entah dari segi kesehatan ataupun pengetahuan.

Belum lagi dalam bisa yang aku tumpangi kemaren sore, aku berdiri didekat pintu karena memang tempat duduknya sudah terisi penuh. Aku berdiri tak jauh dari pintu, ditengah perjalanan aku melihat seorang bapak - bapak yang berdiri mendekatiku, aku pikir dia akan turun, ternyata tidak, tak lama kemudian seorang anak sekolah juga ikut berdiri tak jauh dariku pula. Aku lihat tempat duduk bapak bapak dan anak sekolah yang kini berdiri di sampingku, disana ada seorang laki laki umurnya 37an lhah ya. Tak lama seorang gadis duduk disana, tapi tak ada 2 menit gadis itupun berdiri bergegas meninggalkan orang itu. Sebenernya ada apa? aku masih bertanya .... tak lama suara jeritan anak sekolah perempuan membuat seisi bis berdiri, orang itu melakukan pelecehan seksual terhadap anak tadi. Si anak menangis dan teman temanya berusaha menenangkan. Kondektur bis hanya diam saja, tak ada usaha untuk menurunkan atau bagaimana. Bapak-bapak yang ada di sampingku tadi mengatakan bahwa orang itu mabok. " Pengen mukul tu orang mbak tadinya, tapi aku mengalah ", ungkapnya padaku.
Seisi bis masih memaki maki itu orang, dan dia tak merasa bersalah sedikitpun. Gadis tadi masih sesenggukan tangisnya. si Kondektur bis memanggil ayah dari orang  tersebut, untuk duduk mendampingi anaknya yang mabok. Ternyata si ayah malah duduk terpisah dengan si anak. Diapun juga tak merasa bersalah pada gadis itu, aku perhatikan tak ada maaf mewakili tindakan anaknya yang tak sopan itu. Malah aku lihat sesekali dia tertawa. Ini yang mabok anaknya apa bapaknya ya?
Dan di kursi paling belakang berjejer beberapa laki-laki yang berseragam P**, mereka tidak membuat suasana agar lebih kondusif tapi malah bikin ricuh. Padahal aku anggap mereka adalah golongan priyayi, tapi nyatanya...
Melihat kejadian itu aku bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat saat ini mengalami degradasi moral dan juga tepa slira. Tidak ada tindakan untuk mencoba membantu orang yang menjadi korban suatu masalah. Kebanyakan mereka menyindiri bahkan menertawakan. Semoga aku dan keluargaku bukan bagian dari mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲