Tepat seminggu yang lalu, Radioku tempat bekerja genap berusi 5 tahun, perayaan dengan tema gangsalvagansa sukses digelar. Tak hanya untuk bersuka cita kami juga berbagi disana.
Kali ini aku ingin berbagi cerita dan juga mengintepretasikan tentang PENYIAR RADIO.
Dulu waktu aku masih SMP mendengar radio saat belajar adalah keharusan. Sebagai pendengar setia Radio Prambors Jogja kala itu dan juga PTPN Radio. Belajarku semakin menyenangkan. Bahkan saking ngefansnya sama penyiar" Radio Kribo kala itu ada satu diary penuh tulisan -tulisan tentang penyiar" yang aku sukai, sebut saja Vere Fariza, Ryu Deka, dan Bony Prasetya lebay memang :D tapi itulah kisah SMPku . Sempat suatu waktu aku mengutarakan keinginanku menjadi seorang penyiar radio. Dan tanggapan Ibu kala itu adalah, Penyiar radio itu tidak gampang, susah. Ya... mungkin aku sebagai pendengar hanya bisa masuk dalam dunia para penyiar yang edan waktu itu, dimana lagu" yang diputarkanpun hanya menjadi selingan karena yang terpenting adalah penyiarnya, mendengarkan informasi yang mereka bagi, mendengar kekonyolan On air mereka ah... betapa menyenangkanya jika aku bisa seperti mereka. Tak hanya mendengarkan aku rajin menelpon pas istirahat jam pertama kalo penyiar favoritkuh siaran, aku juga rajin menulis surat dan ikut quiz yang diadain PTPN yeayyy aku menang Quiz hahha Quiz boysband mania dimana dulu dibawain Joseph Jojo Alfredo (sekarang di Prambors Solo) dan Fahmi Anhar.

Dan...
Beruntunglah aku, masih di SMP aku berkesempatan menjadi narasumber bersama Yayasan Kakak Solo di salah satu acara PTPN Radio aaaaaaaaaaaa tak tergambar waktu itu gimana bahagia dan girangnya aku :) . Tapi niatku tuk jadi penyiar agak down, waktu masuk ruang siar, melihat berbagai alat yang aku buta alat apa itu? aku hanya bisa mengiyakan apa perkataan Ibu waktu itu bahwa menjadi penyiar radio itu sulit. Beruntung dulu ketemu sama mba Devita Ananda PTPN :) ada banyak perbincangan menarik mengenai penyiar.
Aku masih berandai-andai dan tidak menyangka bahwa kesempatan menjadi seorang penyiar terbuka lebar di depan mata. Sore itu aku temani kawanku ke sebuah Radio swasta di Wonogiri, di aingin sekali ketemu mas Adam salah stau penyiar favoritnya, ya maaf klo aku ga pernah dengerin karena jujur kurang sreg sama program acaranya waktu itu hehhe... tapi disitulah kesempatanku. Mba Venty Sary selaku ST.Manager Gis memberikan info pendaftaran penyiar remaja/sekolah. Hemhh karena memang aku tertarik dan ingin membuktikan bahwa aku mampu ya sudah langsung saja aku kirimkan CV lengkapku. Interview berjalan, bersain dengan puluhan anak muda baik dari Wonogiri kota ataupun dari daerah sedikit membuatku pesimis, tapi lagi-lagi Dewi Fortuna berpihak padaku. diantara banyak pendaftar yang sudah lolos interview hanya ada dua nama yang berhasil menjadi penyiar remaja GIS waktu itu ya... Widyasworo n Diana siapa ya Diana Gunawan ato siapa aku lupa.....Betapa bahagianya aku . MOS SMA juga training di Radio, aku tak punya cukup waktu untuk hang out bareng temans, seperti yang lain. Sungguh waktuku habis dengan sekolah, siaran, dan OSIS SMA, tapi aku bahagia. Bahkan dulu ada temen SMP yang study banding ke Radio GIS dan aku yang siaran wahhhh betapa kerenya aku waktu itu hahhahah. Adam Manggo, Arin Kusuma, Mas Badai, mba Tia, mba Siwe, mba Ella adalah guru terbaikku di radio GIS. mereka dengan keras dan disiplin mengajariku, bagaimana siaran berbahasa jawa, membawakan siaran dangdut, dan siaran anak muda. Sempat suatu waktu aku mengikuti lomba membacakan berita dan infotaintment yang diadakan UNS. bahkan waktu itu MC nya adalah si cantik Ventin Oktafi (Penyiar PTPN, sekarang di TV One) mbak yang cantik, sumeh dan sexy yang lahir 17 Oktober beda sehari ama aku hahha *segitunya apall, sangat banyak memberiku pelajaran bagaimana sih menjadi seorang MC tapi sayang aku tak berhasil menyabet gelar juara, diraih sama siswa Solo waktu itu.
Tak cukup puas menjadi dj remaja di GIS selama 3 tahun, aku ambil kesempatan yang diberikan oleh Radio Gajah Mungkur dimana radio itu merupakan radio berbasis bahasa Jawa. Bisa gag ya siaran bahasa Jawa? mampu tidak ya? tapi benar ketika kita berniat untuk belajar pasti ada saja jalannya.
Banyak penyiar senior seperti mb Rita, mas Bagas, mas Moko, mba Alya apalagi yang super senior Pak Tolik :) dan aku sebagai junior langsung diberikan beban berat untuk membawakan acara campursari Glopa Glape waktu itu hahhaha edyannnnn siap kertas dan pulpen tiap ada kalimat baru dari para pendengar selalu dicatat dan dicari artinya. Oh God betapa baiknya para pendengar yang sudah lebih tua dari aku bahkan tak ada pendengar yang seusiaku rata-rata di atasku semua, tapii mereka menghagaiku dan menghormatiku karena dalam waktu seminggu aku berhasil menghidupkan acara Glopa Glape yang dulu digawangi Pak Tolik. nak Kalo Pak Tolik ini tipikal orang yang mau mengajari secara langsung tidak perlu script dll, beliau langsung mengajakku siaran dengan tema berat, politik misalnya. ... duh aku tua sebelum masaku. Tapiii aku bangga menjadi bagian dari itu semua... 2 tahun kurasa cukup belajar di radio ini kini aku berlaih ke radio berbasis Internet. Radio GGLink, yang memebdakan pertama kali siaran adalah pendengar, kalo dlu di RGM pendengar bisa phone berjama-jam kali ini di GGLink si penyiar dituntut bisa menghidupan suasana xtra, walaupun hanya sekedar membaca atensi. Ya taulah pendengar GGLink adalah para perantau dari segi pekerjaanpun mereka memiliki jabatan yang tinggi, dan itu menuntut para penyiar untuk berpikir lebih jangan cuma sekedar ngomong. Pendengar pertamaku dan setiaku sampai saat ini adalah tukang geguritan Qdemang Hangabehi n Mas Tedjo Semarnag, mereka adalah pendengar paling uzur wkwkwk. Terimakasih selalu setia bersamaku.
Note :
Penyiar tidak hanya orang yang cerewet, saya tidak setuju ornag cerewet belum tentu mampu dan bisa menjadi penyiar karena setiap omongan yang keluar dari mulut si penyiar adalah informasi untuk masyarakat. Berbicaralah sesuai kapastitas dan kwantitas yang kamu miliki. Tak dipungkiri seorang penyiar menarik apabila memiliki suara yang bagus dan ngangeni seperti aku misalnya hahhahahah tapi itu saja tidak cukup, bagaima si penyiar menghidupkan suatu acara, bagaimana cara dia berkomunikasi dengan para pendengar baik baru ataupun yang lama. Bagaimana memilih lagu yang tepat untuk mereka, merupakan point penting.
Perlu diingat, tak hanya di belakang layar, penyiar harus mampu di depan layar, harus menunjukkan eksistensinya juga di dunia nyata. Karena penyiar adalah public figur, atitude pun sangat diperlukan gag lucu juga kalo si penyiar dipuja puja tapi atitude enol tak bisa kubayangkan.
Karenya seorang public figure penyiar juga harus jaim tapi bukan sombong :D awal bulan lalu di CFD Solo aku juga ngobrol n berjabat dengan penyiar ganteng PTPN era sekarang dia adalah Erico putra... dari cara berjabat tangan waktu kenalan dan ngobrol ada banyak hal yang bisa aku curi darinya. Bagaimana sosok penyiar ini ketika siaran On air, interaksi di sosmed, dan ketika off air. Must be ellegant person. Humble emmm harus tapi ingat jaim juga hahhahha
Dengan kecnaggihan teknologi yang sekarang ada tak menutup kemungkinan bahwa pendengar lebih pintar dari kita penyiar. Dan dari situlah kita harus selalu siap terima kritik ataupun saran, bahkan membuka wawasan tukar pikir bersama mereka pendengar, juga sangat membantu keintiman penyiar dan pendengar.
Sekali lagi jika ada pepatah mengatakan air beriak tanda tak dalam, itu tidak berlaku untuk Penyiar apalagi penyiar sepertiku hahha.
Hobi yang dibayar itulah profesiku sekarang.... entah sampai kapan karena ditempat ini aku bisa mengekplor kemampuanku untuk berbicara, membaca, dan menulis. Yess love sesama golongan darah R, golongan radio :)
Di tulis Senin 28 Sept 2015 pukul 12.00 sampai 13.24 :)