Wah lama juga tak menyentuhmu ya, rindu rasanya. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan terhadapmu, tapi apa daya waktuku tersita dengan hal lain, maafkan aku.
Malam Minggu itu selalu identik dengan yang namanya pacaran, bener begitu engga ya? tapi rasa-rasanya tidak untuk aku, mau ada pacar atau tidak malam minggu itu sama seperti malam lainnya, yang membedakan mungkin adalah esok harinya bisa off dari pekerjaanku.
20 April 2013, siaran sampai jam 3 sore, dan memang cuaca tak terprediksi hujan angin di WOnogiri kita membuatku agak gontai melangkah pulang, bagaimana tidak, Wonogiri hujan deras ditambah angin eh di Ngadirojo terang benderang, rasanya seperti orang salah ahhaha, tak apalah aku harus cepat-cepat membersihkan badan dan berlanjut untuk prepare liputan suatu kegiatan. Ceritane ndherekne Bigbos Milangkori dhateng Sidoharjo. Yaps.. liputan untuk peresmian Gedung Seni Guna Parna Wibawa, saat memasuki kediaman sang empunya rumah yang ada hanyalah rasa takjub, bagaimana tidak setelah melewati jalanan Wonogiri yang amburadul belum lagi melewati hutan dan sawah eh distu ada satu rumah megah yang di dalamnya banyak terdapat warisan budaya. Sebut saja Batik Tulis Parna Raya, ada yang pernah dengar?
Bangga rasanya di WOnogiri ada produsen batik kelas dunia, proses membatiknya dilakukan oleh Anak dan Istri Bapak Suparno yang empunya rumah. Dan tentunya dibantu oleh ibu-ibu di sekitarnya.
Batik ini sudah diekspor ke beberapa negara tetangga, selain batik tulis bapak suparno juga awalnya prihatin melihat gamelan yang terbengkalai bahkan ingin di rongsokkan, dan dari situlah beliau menggagas adanya gedung seni dan taman bacaan, malam itu acara dimulai pukul 20.00 WIB, dari berbagai sambutan dan berbagai pertunjukkan disajikan ada tari jaranan yang diperagakan 2 bocah laki-laki, ada Punakawan yang ndagel, dan yang paling menarik adalah adanya festival karawitan intern Desa Widoro.
Pesertanya ada 6 Group dan usia para peserta rata-rata diatas 50 tahun, hemhh hebat mereka masih mempunyai semangat tinggi untuk menjaga dan melestarikan budaya kita.
Bangga pula disitu bisa bertemu dengan ibu Sumarni, yang merupakan sindhen kondang asli Wonogiri, hemh jadi pengen belajar nyindhen.
Dan orang seperti Pak Parno yang tidak memikirkan imbal balik dan hanya turut ingin berbagi dengan warga lingkungannya serta ingin melestarikan nilai-nilai budaya amat sangat dibutuhkan oleh Wonogiri, andai saja setiap daerah mempunyai Pak Parno? hahha marii kita ikuti jejak beliau
Dan itulah saturday night yang menyenangkan, menambah pengalaman hahha nyampe rumah jam duabelas kurang 5 menit excellent experience







0 komentar:
Posting Komentar